daarulmukhtar.org
BAB 13 SEKELUMIT ANEKDOT PERDEBATAN PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 18 November 2009 17:16

SEKELUMIT ANEKDOT PERDEBATAN


Wahabi & Salafi (WS): "Maulid dan tahlilan itu haram, dilarang di dalam agama."
Ahlussunnah (AJ) : "Yang dilarang itu bid'ah, bukan Maulid atau tahlilan, bung!
WS : "Maulid dan tahlilan tidak ada dalilnya."
AJ : "Makanya jangan cari dalil sendiri, nggak bakal ketemu. Tanya dong sama guru, dan baca kitab ulama, pasti ketemu dalilnya."
WS : "Maulid dan tahlilan tidak diperintah di dalam agama."
AJ : "Maulid dan tahlilan tidak dilarang di dalam agama."
WS : "Tidak boleh memuji Nabi Saw. secara berlebihan."
AJ : "Hebat betul anda, sebab anda tahu batasnya dan tahu letak berlebihannya. Padahal, Allah saja tidak pernah membatasi pujian-Nya kepada Nabi Saw. dan tidak pernah melarang pujian yang berlebihan kepada beliau."
WS : "Maulid dan tahlilan adalah sia-sia, tidak ada pahalanya."
AJ : "Sejak kapan anda berubah sikap seperti Tuhan, menentukan suatu amalan berpahala atau tidak, Allah saja tidak pernah bilang bahwa Maulid dan tahlilan itu sia-sia."
WS : "Kita dilarang mengkultuskan Nabi Saw. sampai-sampai menganggapnya seperti Tuhan."
AJ : "Orang Islam paling bodoh pun tahu, bahwa Nabi Muhammad Saw. itu Nabi dan Rasul, bukan Tuhan."
WS : "Ziarah ke makam wali itu haram, khawatir bisa membuat orang jadi musyrik."
AJ : "Makanya, jadi orang jangan khawatiran, hidup jadi susah, tahu."
WS : "Mengirim hadiah pahala kepada orang meninggal itu percuma, tidak akan sampai."
AJ : "Kenapa tidak! kalau anda tidak percaya, silakan anda mati duluan, nanti saya kirimkan pahala al-Fatihah kepada anda."
WS : "Maulid itu amalan mubazir. Daripada buat Maulid, lebih baik biayanya buat menyantuni anak yatim."
AJ : "Cuma orang pelit yang bilang bahwa memberi makan atau berinfak untuk pengajian itu mubazir. Sudah tidak menyumbang, mencela pula."
WS : "Maulid dan tahlilan itu bid'ah, tidak ada di zaman Nabi saw."
AJ : "Terus terang, Muka anda juga bid'ah, karena tidak ada di zaman Nabi Saw."
WS : "Semua bid'ah (hal baru yang diada-adakan) itu sesat, tidak ada bid'ah yang baik/hasanah."
AJ : "Saya ucapkan selamat menjadi orang sesat. Sebab Nabi Saw. tidak pernah memakai resleting, kemeja, motor, atau mobil seperti anda. Semua itu bid'ah, dan semua bid'ah itu sesat."
WS : "Kasihan, masyarakat banyak yang tersesat. Mereka melakukan amalan bid'ah yang berbau syirik."
AJ : "Sudah lah, kalau anda masih bodoh, belajarlah dulu, sampai anda bisa melihat jelas kebaikan di dalam amalan mereka."
WS : "Saya menyesal dilahirkan oleh orang tua yang banyak melakukan bid'ah."
AJ : "Orang tua anda juga pasti sangat menyesal karena telah melahirkan anak durhaka yang sok pintar seperti anda."
WS : "Para penceramah di acara Maulid, bisanya hanya mencaci maki dan memecah belah umat."
AJ : "Sebetulnya, para penceramah itu hanya mencaci maki orang seperti anda yang kerjanya menebar keresahan dan benih perpecahan di kalangan umat."
WS : "Qunut Shubuh itu bid'ah, tidak ada dalilnya, haram hukumnya."
AJ : "Kasihan, rokok apa yang anda hisap? Setahu saya, di dalam iklan, merokok Star Mild hanya membuat orang terobsesi menjadi sutradara atau orator. Sedangkan anda sudah terobsesi menjadi ulama besar yang mengalahkan Imam Syafi'I yang mengamalkan qunut shubur. Lebih Brasa, Brasa Lebih pinter gitu loh!"


Last Updated on Sunday, 24 June 2012 06:42
 
Orang yang telah meninggal dunia mengetahui orang yang memandikan hingga memasukannya ke liang kubur PDF Print E-mail
Written by Agus Suryanto   
Monday, 02 July 2012 02:28

http://ealahngonothox.files.wordpress.com/2010/09/bismillah-thuluth.jpg

Orang yang telah meninggal dunia mengetahui orang yang memandikan, mengkafani, membawa dan memasukkannya ke liang kubur

 

Syaikh ibnul Qayyim al-Jauziyah berkata dalam kitab ar-Ruh, halaman 9-10,

“Telah disebutkan dalam hadits shahih bahwa orang yang telah meninggal dunia itu memperhatikan orang-orang yang mengiringi jenazahnya ketika ia dimakamkan. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab shahihnya, dari hadits Abdurrahman bin Syimasah Al-Mahri, ia berkata, ‘kami menjenguk Amr bin Al-Ash menjelang ia meninggal dunia, ia menangis lama dan mengarahkan wajahnya ke dinding, anaknya berkata, “Apa yang membuatmu menangis wahai ayahku, bukankah Rasulullah SAW telah memberikan kabar gembira tentang sesuatu? “. Amr bin Al-Ash menghadapkan wajahnya seraya berkata, “Apabila kau menguburku, maka timbunlah aku dengan tanah, kemudian berdirilah kamu disekitar makamku kira-kira sejauh kamu memotong hewan dan membagikan dagingnya, agar aku bias memperhatikan kamu dan agar aku dapat melihat apa yang dilakukan para utusan Tuhanku.” Ini menunjukkan bahwa orang yang telah meninggal dunia memperhatikan kaum muslimin yang mengirinya ke kubur dan ia merasa senang dengan kehadiran mereka.”

 

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata dalam kitab Ahkam Tamanni Al-Maut, halaman 15,

“Sebuah hadits yang disebutkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan lainnya, dari Abu Sa’id bahwa Rasulullah SAW bersabda :

‘Sesungguhnya orang yang meninggal dunia itu mengetahui siapa yang memandikannya, membawanya, mengkafaninya dan memasukkannya ke dalam liang kubur.’

Abu Nu’aim dan lainnya meriwayatkan dari Amr bin Dinar, ia berkata, ‘Setiap orang yang meninggal dunia, maka ruhnya di tangan malaikat maut, ia melihat ke jasadnya, bagaimana ia dimandikan, bagaimana ia dikafani dan bagaimana ia dibawa. Dikatakan kepadanya ketika ia berada diatas pembaringannya, “Dengarkanlah pujian orang banyak kepadamu.”

Ibnu Abi Ad-Dunia meriwayatkan makna yang sama dengan riwayat ini, ia meriwayatkan dari beberapa periwayat dari Tabi’in, dengan redaksi, ‘Ditangan malaikat’, tanpa ada tambahan lain.

 

Last Updated on Monday, 02 July 2012 02:34
 
BAB 1 MENYINGKAP TIPU DAYA & FITNAH KEJI FATWA-FATWA KAUM SALAFI & WAHABI PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Saturday, 14 November 2009 12:30

KERESAHAN TERHADAP ALIRAN SESAT

Belakangan ini, Indonesia sedang dilanda gelombang besar paham baru keislaman yang beraneka ragam bentuknya dan sangat menyesatkan. Munculnya sikap-sikap ekslusif dan arogan dari para pengusung atau pengikut masing-masing paham tersebut telah semakin meresahkan masyarakat. Merasa diri berhak berupaya mengkaji al-Qur'an atau hadis, merasa diri paling benar dan yang lain salah, menganggap kesesatan itu hanya Allah yang berhak memvonisnya, dan menganggap pemahaman umat Islam tentang agama selama ini keliru, semua dalih itu telah menyebabkan perbedaan pendapat yang memicu perpecahan di kalangan umat Islam.

Para ulama pun tidak tinggal diam, demi menyaksikan "kekacauan" tersebut. Sebagai wujud tanggung jawab mereka kepada Allah, maka mereka terus berupaya membentengi umat dari serangan paham-paham sesat tersebut, baik secara perorangan melalui mimbar-mimbar masjid atau majlis-majlis ta'im, maupun secara lembaga seperti yang dilakukan oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia). Upaya itu mereka wujudkan dalam bentuk penjelasan-penjelasan atau fatwa-fatwa yang menyatakan bahwa paham-paham tersebut sesat dan menyesatkan.

Meskipun begitu, fatwa-fatwa para ulama terutama MUI (Majelis Ulama Indonesia) tersebut seringkali menghadapi kendala, baik dari pihak-pihak yang tidak senang dengan fatwa-fatwa tersebut, maupun dari pihak pemerintah yang tidak selalu siap mengakomodir fatwa-fatwa itu dengan fasilitas hukum, sehingga para ulama terkesan hanyalah sebagai kumpulan orang-orang sok tahu yang gemar mempermasalahkan orang lain, sedang fatwa-fatwa mereka tak ubahnya bagaikan gonggongan anjing yang tidak perlu dihiraukan.

Namun begitu, alhamdulillah, berkat para ulama tersebut, masyarakat banyak yang terselamatkan dari bahaya kesesatan. Mereka dapat mengenal paham-paham sesat dan menjauhinya dengan bimbingan fatwa-fatwa mereka. Meski demikian, bukan berarti keresahan dan perpecahan di kalangan masyarakat Islam dapat hilang dengan mudah. Sistem hukum dan undang-undang yang sekuler serta pemerintahan yang tidak tegas dalam menindak pelaku kesesatan, adalah salah satu yang paling mendukung keleluasaan orang-orang berpaham sesat untuk bertahan dan menyebarluaskan kesesatannya.

Berbeda pendapat adalah hak asasi setiap orang yang dilindungi undang-undang di negara ini. Sayangnya, karena tidak adanya batasan yang jelas, perbedaan pendapat itu seringkali memasuki wilayah prinsip dalam agama yang seharusnya dihindari. Malahan agamalah yang sering menjadi korban empuk argumentasi perbedaan pendapat itu sambil berlindung di balik payung HAM (Hak Asasi Manusia) yang sekuler. Sehingga sepanjang perbedaan itu masih ada (bahkan dilindungi), potensi perpecahan pun akan tetap eksis.

TIDAK DIANGGAP SESAT TAPI MERESAHKAN

Dalam pada itu, ada aliran atau paham yang tidak pernah difatwakan oleh lembaga formal para ulama Indonesia seperti MUI (Majelis Ulama Indonesia), namun keberadaannya di tengah-tengah masyarakat Islam Indonesia bahkan di kalangan umat Islam di dunia terbukti sangat meresahkan. Faham itu bernama Salafi dan Wahabi. Banyak ulama yang secara pribadi bahkan telah terang-terangan menyatakan faham ini sebagai "masalah" di kalangan umat Islam.

Tidak difatwakan sebagai aliran sesat, tidak selalu berarti lurus dan benar. Sebab apa yang hakikatnya lurus dan benar seyogyanya tidak memunculkan masalah dalam prakteknya pada kehidupan sosial, kecuali hanya akan menghadapi tantangan dari orang-orang kafir atau munafik yang tidak suka terhadap Islam.

Last Updated on Sunday, 24 June 2012 06:49
Read more...
 
BAB 5 BERDALIL SECARA SERAMPANGAN PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 18 November 2009 11:40

BERDALIL SECARA SERAMPANGAN

Setelah membahas dalil-dalil pokok kaum Salafi & Wahabi menyangkut tuduhan mereka tentang bid'ah, kita dapat mengetahui bahwa keberadaan dalil-dalil tersebut sebenarnya tidak dapat mendukung atau menguatkan pemahaman anti bid'ah mereka yang berlebihan. Terbukti bahwa dalil-dalil tersebut semuanya bersifat umum, tidak menyebutkan masalah-masalah tertentu, sedangkan fatwa-fatwa mereka tentang bid'ah seperti memberikan rincian yang tidak pernah disebutkan oleh dalil. Para ulama saja tidak berani melakukan hal itu sepanjang memang tidak didapati dalil terperinci, sehingga mereka hanya berhenti pada perumusan kriteria dan batasan untuk membolehkan suatu perkara atau melarangnya. Luar biasanya, rumusan itu dapat digunakan untuk segala macam perkara, baik yang berkaitan dengan agama, maupun yang berhubungan dengan urusan dunia.

Dalil-dalil khusus yang digunakan kaum Salafi & Wahabi pun tidak dapat dibenarkan kesimpulan hukumnya, sebab mereka biasa memahaminya secara harfiyah (tekstual) tanpa mengkonfirmasikannya lagi dengan dalil-dalil lain yang mungkin mengarahkan maknanya. Kesimpulan hukum yang mereka hasilkan sangat gegabah, karena metodologi para ulama ushul tentang teori-teori memahami dan meneliti dalil hampir-hampir mereka tidak pedulikan. Wajarlah kalau pada akhirnya mereka terpeleset dalam memahami dalil.

Di samping dalil-dalil pokok tersebut, biasanya kaum Salafi & Wahabi juga mengiringkan dalil-dalil tambahan sebagai pendukung pendapat-pendapat mereka tentang tuduhan bid'ah. Sepertinya, hal itu mereka lakukan agar kesan "salah" pada orang-orang yang mereka tuduh melakukan bid'ah tersebut menjadi semakin terasa dan semakin mengerikan. Namun lagi-lagi dengan cara itu mereka hanya menambah poin minus setelah kegagalan memahami dalil-dalil pokok bid'ah. Dengan kata lain, maksud hati ingin memberikan kesan cerdas dan akurat dalam berdalil, apa daya pemahaman yang keliru malah semakin menunjukkan kebodohan dan kecerobohan mereka. Mengapa begitu?

Ya, karena jelas-jelas mereka meletakkan dalil-dalil pendukung itu bukan pada tempatnya, serampangan! Ini pasti karena tipikal cara mereka memahami dalil yang serba harfiyah (tekstual). Mau tahu buktinya? Mari kita ambil beberapa contoh.

Last Updated on Wednesday, 18 November 2009 12:07
Read more...